Jumat, 07 April 2017

Makan Siang Bersama a la Jepang


Haihaiii... Welcome back😋😍

Kemarenan saya janji mau cerita tentang anak-anak Jepang dan budaya membaca yes, sampe sekarang belum terpenuhi karena saya belum dapat ilham untuk meneruskan outline tulisan yang ada, hahhah.

Baiklah, sekarang izinkan saya cerita hal yang lain dulu, masih menyoal anak-anak Jepang, based on my reading last night, and for more info yah silakan googling sendiri. 😁😁



Kekalahan Jepang dari Amerika pada perang dunia II, membuat Negeri Matahari Terbit ini menyadari bahwa diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyamai kemajuan bangsa Barat.

Ternyata, berakhirnya perang menyadarkan pemerintah Jepang untuk memprioritaskan dua sektor utama dalam pembangunan, yaitu sektor: PENDIDIKAN DAN KESEHATAN. Lalu bagaimana upaya pemerintah agar fokus pada kedua sektor ini berjalan beriringan? Salah satunya ialah menekankan pentingnya budaya makan sehat sebagai bagian dari peningkatan derajat kesehatan. Jangan salah, Jepang berinvestasi besar hanya untuk membangun mindset soal makan sehat ini. Bandingkan dengan negara kita, yang kebanyakan melahirkan program “GAGAL” dan tidak sustainble (berkelanjutan). Lha iya, program dirancang hanya “based on project” (ini istilah temen saya), sehingga ketika suatu proyek selesai, BYE! selesai sudah urusan kita. 😐

Kembali ke Jepang, maka tidak mengherankan jika sebagian besar sekolah di sana mempunyai nutritionist (ahli gizi). Di samping itu, lunch (makan siang) bersama di kelas merupakan kebiasaan siswa sekolah dasar dan menengah tingkat pertama di Jepang. Kegiatan ini tidak lain untuk menciptakan budaya makan sehat tadi sekaligus sebagai upaya membangun hubungan yang lebih baik antara siswa dengan sesama siswa maupun siswa dengan guru. Bagi orang Jepang, makan siang adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.


SHOKUIKU, Tradisi  Jepang yang Kini Menjadi Program Utama

Tradisi makan siang bersama sebenarnya sudah eksis sejak lama di Jepang, lebih dari 50 tahun lalu. Namun, menjadi program wajib di semua sekolah negeri sejak sekitar tahun 2005 dengan sebutan “shokuiku”. Program ini merupakan bentuk pendidikan gizi yang tujuannya ialah untuk membiasakan pola makan sehat sejak dini dengan memanfaatkan pangan lokal yang terbukti menyehatkan.

Pendidikan tentang makanan sehat dan bergizi diberikan sesuai retang usia. Untuk anak usia dini, pengajaran yang diberikan meliputi contoh cara makan yang baik dan benar serta membiasakan anak menikmati makanan serta tidak pilih-pilih makanan (picky eater). Untuk siswa kelas rendah, diajarkan mengenai pentingnya zat gizi dalam makanan sehingga mereka bisa menerapkan pola makan seimbang. Sementara itu, siswa kelas tinggi diberikan materi yang lebih kompleks lagi yaitu penerapan pola makan seimbang, mengenali jenis-jenis makanan yang menyehatkan tubuh, mengetahui berat badan ideal, dan makan dalam porsi yang sesuai dengan berat badan dan tingkat aktivitasnya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa kegiatan makan siang bersama tersebut dilakukan di dalam kelas bersama teman-teman dan guru. Beberapa anak bertugas untuk membagikan makanan yang sebelumnya telah disiapkan oleh pihak sekolah kepada teman-temannya. Dengan cara ini, anak sekaligus dilatih bekerjasama dan bertanggung jawab, sebab dalam praktiknya orang dewasa tidak dilibatkan secara langsung. Oh iya, biasanya makan siang terdiri dari nasi, lauk seperti ikan, ayam, daging dsb sebagai sumber utama protein, serta sayuran, sup, dan susu.
 
The lunch line; students serving their peers.
cr pic: https://nancymatsumoto.blogspot.co.id
Shokuiku sebenarnya juga merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya pemerintah Jepang dalam menurunkan angka kejadian obesitas dan kasus penyakit tidak menular (akibat gaya hidup modern) seperti penyakit kardiovaskular dan kanker. Sebagai dampak positif dari program ini, data dari pemerintah menyebutkan bahwa obesitas pada anak-anak Jepang selalu menempati urutan terendah jika dibandingkan dengan negara lain. Yeayy, prok prok prok... That’s why, menurut WHO, rata-rata usia harapan hidup orang Jepang ialah 83 tahun, lebih panjang dari negara-negara lain.

Berbeda dengan Amerika yang mana obesitas pada anak merupakan issue utama. Di negaranya Mr. Trump itu, prevalensi obesitas meningkat 3 kali lipat selama 3 dekade belakangan, mennn... Katanya sih, pantaslah orang Amrik pada kelebihan berat badan, makanan favoritnya burger sama french fries wicis tinggi kalori dan garam, tapi di sisi lain miskin vitamin dan mineral. Sudah begitu, minuman primadonanya coke, gulanya banyak euy. Lagi-lagi kaloriiiii...

Bagaimana dengan Indonesia?
Di negara kita tercinta ini, pendidikan gizi jelas belum menjadi bagian penting. Kurikulum pendidikan dasar belum mengajarkan ilmu gizi sebagai bagian yang terintegrasi. Di saat negara-negara maju sudah menggalakkan program school lunch, anak-anak sekolah di Indonesia masih terngiang-ngiang dengan poster gizi “zaman purba”:

4 sehat 5 sempurna

Duh ileeee, padahal paradigma itu sudah usang dan kadaluarsa. Sekarang ini, harap dicatat ya bukibuk, semboyan kita ialah:

GIZI SEIMBANG

Apa bedanya? Antara lain, dulu, anggapannya ialah asupan kita dikatakan lengkap terpenuhi jika sudah minum susu. Sementara dalam paradigma gizi seimbang, yang terpenting ialah komposisi dan jumlahnya. Whether mo minum susu apa enggak, yang jelas asupan kita sekurang-kurangnya mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral dalam porsi yang  cukup. Gitu aja.

Well, soal mazhab 4 sehat 5 sempurna yang masih dianut itu, bener loh anak-anak sekolahan masih meyakini itu. Hal ini terbukti ketika saya menjadi fasilitator program Dokter Kecil Mahir Gizi (DKMG) di Tana Toraja sekitar akhir tahun 2016 lalu. Sebelum diedkukasi, anak-anak di sana masih menggaungkan semboyan 4sehat 5 sempurna. 

Sekedar info, DKMG menurut saya adalah salah satu program yang keren dalam upaya membangun kesadaran untuk membiasakan pola makan sehat di lingkungan siswa sekolah dasar. Dalam program ini, beberapa anak yang dipilih sebagai dokter kecil anak menjalankan berbagai kegiatan mulai dari pengukuran status gizi siswa, penyuluhan kepada siswa, petugas kantin bahkan orang tua siswa, sampai segala rupa upaya inovatif dalam rangka kampanye pola makan sehat itu tadi. Cakep banget pokoknya!

dokcil SDN 5 Makale Tana Toraja sedang sosialisasi menu seimbang

pameran makanan oleh dokcil dan siswa SDN 6 Makale Tana Toraja

Kampanye makan sehat oleh dokcil SD Krsiten Makale 1 Tana Toraja

makan siang bersama, SD Katolik Renya Rosary Tana Toraja

Dan pada akhirnya saya pun menyadari, untuk memulai dan menyukseskan niat baik semacam ini, diperlukan kerjasama semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, dan tak lupa pula kamu-kamu yang jomblo merana. Oh tentu saja, memikirkan hal ini jauh lebih penting ketimbang memikirkan kapan kesendirianmu akan usai. Percayalah sebuah pesan berikut:

SEMUA AKAN MENIKAH PADA WAKTUNYA... (uhukk)




Terakhir, remember this, karena ini penting... 
Untuk urusan training membangun mindset pola makan sehat di sekolah or something's like that, gak usah repot-repot nyari ke sana ke mari. Call gue aja, I'm expert and available kok. hahahhahahhaha.
Silakan ajukan request via email, fesbuk, atau lewat telepati. 


Sekian. Hatur tengkyuuu...
Sering-sering mampir ke sini yaaakkk ❤️💋😃




Selasa, 28 Maret 2017

Menjadi Anak Berbakti di Era Media Sosial


Ketika para orang tua, bapak-ibu, om-tante, dan segenap sodara-sodara sepuh sudah mulai bermain socmed, sesungguhnya para kawula muda mengalami kegalauan. Bukannya apa-apa, eksistensi kami-kami ini mulai sedikit terancam karena jika mau "nyetatus", sudah harus memperhitungkan kira-kira bagaimana tanggapan mereka melihat postingan kami. Mau ga mau harus waspada kalo mau bikin status aneh-aneh, yeah walopun kita menyadari sepenuhnya bahwa itulah salah satu modal untuk ngeksis.

Umpamanya, saya yang jomblo ini suatu hari memposting foto berdua dengan teman cowok, tiba-tiba mereka komen, "Siapa ini? Pacar baru ya? Kapan dikenalkan?" 

Kan keder juga kalo dikasih pertanyaan model begituan. Gue jadi gak enak sama temen gueeee tauukk. 😜😜 Dikiranya apaan nanti. Padahal gue ama doi cuma temenan. Heish! *kita kapan jadian sih, baaangg? 😒😌

Itulah salah satu alasan kenapa saya gak mau pasang foto berdua sama teman cowok. Alasan lainnya, gak ada juga teman cowokku yang sudi foto berdua. Bahahahhahahaa...

Selanjutnya, kenapa kita harus mewaspadai orang-orang tua yang main socmed ialah karena mereka sebagai pendatang baru sometimes agak kaget dengan hingar-bingar jagad "temlen". Ditambah pula, pengetauan orang tua yang biasanya minim soal teknologi bisa berakibat cukup fatal. Maka perhatikanlah, sosok yang muncul di lini masa mereka bukanlah sosok nan bijak bestari layaknya orang dewasa yang kenyang akan asam garam kehidupan, tetapi "alay-alay" baru yang sayangnya sudah tidak muda lagi. *kekberasangomongindirisendiri* #ngaca oiii ngacaaaa

Tetapi anggaplah itu wajar, lagipula efek samping yang ditimbulkan teknologi socmed memang demikian. Kita, dari yang muda sampai yang tua, seolah haus akan eksistensi, sekaligus terkena penyakit narsis. But wait, apakah socmed memang hanya menjadi panggung untuk narsis-narsisan? Oh, come on...

Kemudian, hal yang mungkin belum dipahami sepenuhnya para orang tua pendatang baru ini adalah bahwa socmed itu sungguh dunia penuh dusta dan kepalsuan. Mereka terkesima dan terenyuh pada status-status "katakan amin, like and share" lalu dengan latah ikut menyebarkan. Sungguh menyedihkan sekaligus menyebalkan sebenarnya... 😢😭 Harusnya, kamu sebagai anak hitz masa kini mampu memahamkan papa-mama om-tante di rumah, bahwa itu hanya bagian dari bisnis kotor jualan jempol.

Dunia socmed juga dipenuhi berita hoax. Ujaran kebencian. Adu domba. Dan segala macam status dan berita provokatif. Dan kita sudah sama-sama mafhum, kebanyakan mengonsumsi berita sampah semacam itu, bisa bikin orang tua kumat darah tinggi dan asam uratnya. That's why you should alert your parents, dude! Barangkali kamu bisa mengajari mereka untuk memilih konten-konten sehat, karena dalam hal ini seharusnya kamu lebih expert *kamu kan pemain lama yes... 😎



Terakhir, mohon jangan ajari orang tua untuk kerajingan main Bigo live! Cukup kamu saja yang nista dengan mainan gak guna yang saya gak abis pikir itu, hahhahaha...
.
.
.
Demikian, saya akhiri kuliah kita hari ini. Silakeun dicatat sebagai "tugas penting nan mulia yang ada di pundak setiap anak generasi milenial." Semoga dengan mengamalkan saran-saran di atas, kamu bisa tercatat oleh malaikat sebagai anak berbakti. Kalaupun kamu tidak menemukan saran dari tulisan ini, yah silakan pikirkan sendiri bagaimana bagusnya.

Sekian. Salam. ❤️

Kamis, 16 Maret 2017

KETIKA USTADZ (MEMILIH) POLIGAMI

Media pemberitaan beberapa hari belakangan (kembali) diramaikan dengan perceraian Dai Seleb Indonesia: Ustadz Al Habsyi. Kabarnya, gugatan cerai dilayangkan karena dipicu oleh kehadiran istri kedua. Hmm, begini risiko piblic figure, masalah rumah tangga harus siap dijadikan konsumsi masyarakat.


Pernah waktu SMA, saya dan teman-teman sekelas mendapat tugas menulis biografi tokoh idola. Bagi saya sendiri, menceritakan tokoh idola adalah hal yang menyenangkan. Segera setelah diamanahi tugas tersebut, pergilah saya dan beberapa kawan ke warnet demi misi mencari referensi.

Meskipun ketika itu saya masih berwujud remaja labil, hahhah, tetapi jangan salahh...saya tidak seperti kebanyakan remaja lain yang mengidolakan artis sinetron, penyanyi, bintang K-Pop (pas saya SMA korean wave mulai melanda kawula muda), atau seperti anak gadis yang kesemsem sama pemain bola ganteng. No way, tokoh idola gue gak se-mainstream itu! Idola gue istimewa. Coba tebak siapa?

AA GYM, cuy... hahhahh

Tapi ini serius. Maka bayangkanlah, di tengah hujatan masyarakat kepada Aa karena perkara poligaminya, saya justru maju di muka kelas mempresentasikan biografi Sang Dai Kondang Nan Tajir. Kemudian salah seorang teman bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Aa Gym yang poligami, apakah kamu setuju?”

Kalau tidak salah, saya memberikan jawaban yang kurang lebih seperti ini, “Saya setuju-setuju saja dengan poligami... Tapi saya tidak mau dipoligami!!!”

Jawaban yang sangat brilian, pemirsahhh. Setuju tentang poligami tapi gak mau dipoligami? Jadi maunya apa?

Mendengar jawabanku barusan, terang saja teman sekelasku tergelak-gelak. Ibu Zarbety (guru bahasa Indonesia-ku) ikut tertawa dan geleng-geleng. Selanjutnya, saya diminta turun panggung untuk menghindari pertumpahan darah karena saya ngotot tidak mau dipoligami tetapi di sisi lain juga membela Aa. Lagian, Teh Ninih kan ngasih izin untuk menikah lagi, begitu pikirku.

Baiklah, itu cerita masa lalu...


Dalam konteks budaya Arab jahiliyah adalah wajar jika seorang laki-laki beristri banyak, bahkan bisa sampai memiliki 10 istri (setelah risalah Islam datang, jumlahnya dibatasi menjadi maksimal empat istri). Berdasarkan latar belakang sosial kultural tersebut, bolehlah kita katakan bahwa secara psikologis perempuan Arab lebih mudah menerima praktik poligami. Sementara dalam kultur orang Indonesia, umumnya poligami dianggap tabu. Pada masa silam pun, poligami hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan dan penguasa. Mengapa para penguasa zaman dahulu merasa perlu memiliki banyak istri? Hm, membahas hal ini urusannya akan panjang. Kita butuh kanal lain untuk meributkannya. Tetapi intinya adalah, sebagai perempuan Indonesia tulen dan rakyat jelata, wajar dong ya kalau saya tidak siap 'dimadu', hahhaha.

Tidak terima 'madu', tidak serta-merta membuat saya membenci dan mengharamkan poligami (emang gue sape?). Toh, hukum asalnya kan boleh. Cuma, persoalannya adalah terkadang laki-laki menggunakan dalih agama untuk memuaskan hasrat pribadi. Para cowok mungkin lupa, ada term and condition a.k.a syarat dan ketentuan yang patut diperhatikan ketika hendak melakukan poligami. Pertama, tentu harus mampu secara fisik dan finansial. Kalau syarat ini tidak terpenuhi, tidak perlulah petantang-petenteng. Bukannya membahagiakan, malah menciptakan penderitaan. Iya loh, menghidupi satu istri saja tidak gampang. Belum lagi anak-anak, biaya sekolah mahal, ciiiyynn...

Lalu, jika kemampuan fisik dan finansial sudah terpenuhi, apakah sudah cukup? Tunggu dulu... Masih ada lagi syarat yang disebutkan secara gamblang:

“Kalau kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja.”(An Nisa’:3)

Kata kuncinya di situ: ADIL. Adilnya itu gimana? Yang jelas tidak sekadar menitikberatkan pada pemenuhan nafkah lahir, tetapi juga nafkah batin: perasaan dicintai, dilindungi, diperhatikan, dsb.

Nah, andaikan syarat-syarat tersebut di atas sudah bisa disanggupi, silakan mengajukan proposal kepada istri untuk menikah lagi. Kalo proposal ditolak, dirayu atuh istrinya, hahahah. Jangan nikah diam-diam. Sebab kenapa? Menikah lagi tanpa sepengetahuan istri justru akan melukai perasaannya, timbul perasaan tidak dihargai. Jatoh-jatohnya malah istri merasa dizolimi. Gak adil dong? Rumah tangga sakinah mawadah waromah pun hanya tinggal mimpi...

Well, well, well...apa pun keputusan setiap orang, balik lagi ke pandangan hidup. Kalo gue sih ya, memadang pernikahan itu sebagai mahligai rumah tangga. *ini ngomong apasihhh, yaiyalah rumah tangga*:P :P Baiklah, bagi gue salah satu tujuan pernikahan adalah GROWING UP TOGETHER. Bagaimana pasangan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, mewujudkan cita-cita dan visi hidup bersama. Duh ileeee, indah niaaaaaan. AHAHHAHA. But seriously, makanya langkah pertama dan paling krusial dalam memilih pasangan hidup ialah VISI itu tadi. Kalo visi oke, yang lain bisa dinego, ahhaha. Dan berjalan beriringan menyamakan visi ini menurut saya adalah pekerjaan yang tidak mudah. Itu baru ama satu bini cuy, gimane kalo dua, tiga, atau empat? *think again*

Akhir kata, silakan memilih untuk berpoligami atau tidak. Jika Anda mampu memenuhi syarat dan ketentuannya dan merasa akan lebih baik jika memilih jalan poligami serta tidak merugikan pihak-pihak lain, sok atuh: go ahead... Pun bagi Anda yang merasa hidup bahagia dengan monogami, nikmatilah... Toh, semua orang punya peluang yang sama masuk surga.







Selasa, 14 Maret 2017

Anak Laki Main Boneka, Wajar Gak Sih?

Menjalani hidup sebagai jomblo itu kadang terlalu datar dan agak membosankan. Nyaris tidak ada konflik hidup yang layak diceritakan kepada khalayak ramai, misalnya kisah tak santai macam LDR, pacar gue guanteng maksimal, atau apa kek gitu. Life is so flat, you know. Ditambah pula saya adalah pengacara alias pengangguran banyak acara, lengkap sudah! Beban ganda kehidupan yang membosankan. Kalo dalam istilah kasus gizi di Indonesia, ada namanya double burden: orang-orang kelebihan gizi sekaligus kekurangan gizi di waktu yang bersamaan. Yeah, mirip-mirip itulah.

Jadi, karena ga ada yang bisa diceritakan dengan gegap gempita, let me tell you about my past. Semacam pengalaman berharga gitu dah *tsah*. Terutama buat mamah-mamah dan calon mamah, tulisan gue berikut ini mungkin bermanfaat di kemudian hari. 

Dikisahkan, sekitar dua tahun lalu saya mudik. Tinggal di rumah sebagai kembang desa yang doyan dasteran (sampe ditegor karena persis emak-emak pake daster mulu. People may never know, pake daster itu sumpah nyaman banget such a friend zone), juga menjalani hari-hari sebagai baby sitter. *uhuk!

I have a nephew, named Rafif. Bocah inilah yang dulu saban hari saya temani main. Sebelum mudik ketika itu, saya sempat ke Gramedia dan membelikan beberapa buku untuk si Rafif, some of them isinya tentang anak-anak yang ceritanya baru masuk sekolah. Saya juga sempat membeli 2 boneka: 1 teddy bear dan 1 beruang temannya Masha. Nanti, boneka ini akan sangat berguna daripada sekadar dipeluk-peluk.
Trust me!
.
.
.
Singkat cerita, setiba di rumah, saya memamerkan ole-ole yang tidak seberapa kepada Rafif: buku, stiker, dan boneka. And he look in love with the gift. Maka pekerjaan pertama kami hari itu adalah, menempel stiker Masha and The Bear di ruang nonton. Ada juga stiker anak sekolah bonus dari buku bacaannya.


Hari berikutnya, dia minta dibacakan buku. Kegiatan itu berulang-ulang kami lakukan, sampai anak ini hafal cerita dalam buku-bukunya. Dan seperti anak-anak umumnya yang punya rasa ingin tahu yang besar, Rafif selalu bertanya. Sering kali, pertanyaan itu berwujud: "kenapa?" Jadi, jika punya anak kecil Anda harus selalu siap sedia dengan jawaban "karena bla bla bla..."

Si Rafif waktu itu umurnya baru 4 tahun. Saya suka kasihan, setiap pagi dia ga ada teman main, sebab anak-anak tetangga pada ke sekolah. Yah memang, anak-anak sebelah usianya lebih tua dari Rafif. Then I guessed, sudah saatnya dia didorong untuk masuk TK. Bukan untuk apa-apa, sekadar supaya bersosialisasi dan punya teman baru.
Rafif first day at school

Maka mulailah saya mendoktrin dia untuk tertarik dengan Taman Kanak-Kanak alias TK. Caranya? Via buku cerita itu tadi. Cara ini cukup ampuh, cuma belum bisa benar-benar menggerakkan Rafif untuk mau sekolah. Cara lain: mendongeng atau ngarang cerita pake boneka, hahahaha.

Masih ingat 2 boneka yang tadi? Yes, Teddy Bear dan Beruang Teman Masha, bersama boneka Naga dan Upin, mereka adalah tokoh-tokoh dalam cerita karangan gue yang kemudian hari begitu digandrungi sama Kaka Apip (Rafif). Saking gandrungnya, saya mesti menggunakan boneka itu untuk mempengaruhi dia dalam setiap tahap hidupnya. I mean, mau makan, mau mandi, mau mengaji, sampai akhirnya Rafif mau masuk sekolah tidak lepas dari peran tokoh boneka tadi. Gerombolan boneka itu pun seperti menjadi teman bagi Rafif. Kami sempat memberinya nama: Mama Deedee untuk teddy bear, Miskho untuk beruang coklat, Naga, dan Upin.

Tapi asal tahu saja, main peran-peran begitu susaaaah. Kenapa? Karena untuk semua tokoh itu, eike yang dubbing ciiiinnn... Bayangkan betapa lelahnya adek, Bang, mengubah-ubah suara dan gaya bicara dalam waktu bersamaan, hahahah. Tapi, disinilah bagian yang paling disenangi Kaka Apip, dia suka tertawa-tawa geli mendegar boneka berbicara dengan jenaka.


Persoalan yang muncul kemudian, orang-orang selalu memandang aneh anak laki-laki yang main boneka. Itu juga yang terjadi pada tetangga ketika melihat saya main sama Rafif. Well, dalam hal ini izinkan saya memberikan argumen. 

Pertama, saya mengenalkan boneka kepada ponakan saya sebenarnya hanya sebagai semacam media komunikasi. Kita bisa menyampaikan pesan-pesan moral dengan bermain peran. Pernah liat anak-anak di TV mendongeng/didongengkan pakai boneka? Nah, kurang lebih seperti itu. Kedua, ponakan gue ga pernah main masak-masak atau main asuh-asuhan dengan boneka, hahhaha. Boneka itu pure sebagai teman. Kami bermain peran-peran, dan ceritanya universal: tentang sekolah, persahabatan, dll. Ini sekalian mengasah imajinasi juga sih. Jadi saya agak sebal juga sih ketika ada orang mencibir kok anak cowok main boneka. Ya kaliii bonekanya Barbie... 

Finally, in my humble opinion, tidak masalah anak laki diajak main dengan boneka. Selama bonekanya dimanfaatkan sebagai media komunikasi, untuk mendongeng misalnya, bercerita tentang pergulatan antara penjahat dan superhero, dsb. Sebab pada dasarnya anak-anak lebih suka ketika kita menyuguhkan mereka sebuah cerita yang "hidup". And puppets make the story real.

Jumat, 30 September 2016

Mengapa Harus IMD?

Sungguh  mengagumkan bahwa ternyata bayi baru lahir yang ditempatkan pada dada atau perut ibunya akan bisa menemukan sendiri sumber ASI dan langsung menyusu. Nah, proses inilah yang dikenal dengan istilah insiasi menyusui dini (IMD).


Inisiasi menyusui dini (IMD)dilakukan pada 1 jam pertama setelah bayi dilahirkan. Apa pentingnya melakukan IMD?
photo cr: www.mamamia.com.au

IMD ialah langkah awal untuk menunjang keberhasilan ASI eksklusif nantinya.  Pemberian ASI eksklusif itu sendiri selain sebagai sumber gizi paling baik bagi bayi, juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga si kecil tidak mudah terserang penyakit infeksi  (infeksi saluran pernapasan dan diare merupakan “major child killer”, penyebab kematian terbesar pada anak). Maka dengan memberikan ASI eksklusif, angka kematian bayi pun bisa berkurang. Cairan ASI berwarna kekuningan yang pertama kali keluar atau dikenal dengan sebutan kolostrum merupakan cairan kaya nutrisi yang baik untuk sistim imunitas bayi. Sayangnya, pada masyarakat tradisional, kolostrum malah “dibuang”.

Pada proses IMD terjadi kontak skin to skin antara ibu dengan bayi. Interaksi ini memberikan rasa hangat kepada bayi sekaligus mengeratkan ikatan emosional di antara keduanya. Selain itu, ternyata proses ini juga membantu mengurangi rasa nyeri yang diderita ibu pascapersalinan.

Bagaimana agar IMD berhasil?

Langkah pertama; perlu persiapan mental dan fisik. Dari segi mental, setiap ibu harus yakin dan percaya diri bahwa mereka bisa menyusui bayinya. Jauh-jauh hari sebelum persalinan, ibu dan suami juga perlu membekali diri dengan pegetahuan yang memadai. Sedangkan dari segi fisik; perhatikan asupan makanan yang bergizi dalam jumlah cukup.

Kedua; menggalang dukungan dari anggota keluarga terdekat, misalnya dari orang tua dan mertua. Ibu perlu memberikan pemahaman kepada mereka tentang keinginannya untuk melakukan IMD dan apa saja manfaatnya. Salah satu cara yang bisa ditempuh ialah mengajak serta orangtua/mertua ketika kunjungan ke dokter atau bidan sehingga mereka bisa memperoleh penjelasan lebih detil. Hal ini penting dilakukan mengingat anggota keluarga biasanya banyak terlibat dari mulai proses persalinan hingga pengasuhan anak.

Ketiga; mencari tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang mendukung IMD dan ASI eksklusif.

Keempat; jangan buru-buru memberikan dot/susu formula segera setelah lahir karena ibu merasa ASI-nya tidak keluar. Sebagian ibu memang tidak langsung bisa memproduksi ASI. But, don’t worry karena sebenarnya setiap bayi masih punya cadangan makanan. Hal yang perlu dilakukan ibu adalah segera lakukakn IMD dan menyusu sesering mungkin yaitu sedikitnya setiap 2 jam untuk merangsang keluarnya ASI. Selalu ingat pula untuk menanamkan keyakinan di dalam diri, “I can do it!” Pemberian dot/mpeng juga tidak duanjurkan karena bisa menyebabkan bayi mengalami bingung puting.

Senin, 15 Agustus 2016

Suka Ngemil dan Makan Gorengan? Waspada Kolesterol!

Beberapa dekade silam, sebagian masyarakat mungkin belum familiar dengan penyakit jantung dan stroke. Kesannya, itu penyakit orang kaya... Tetapi hari ini, dua penyakit itu bukan lagi milik orang
pict: google
berduit saja. Pola hidup manusia modern yang cenderung instan dan suka yang “enak-enak”, mau tidak mau membuat kita semakin akrab dengan penyakit tersebut.

Tingginya angka kejadian penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke membuat banyak orang mulai waspada terhadap kolesterol. Betapa tidak, kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PJK dan stroke.

Nah, ketakutan sebagian orang terhadap kolesterol dilihat oleh sebagian produsen sebagai peluang untuk menciptakan produk-produk non-kolesterol. Namun sayangnya, beberapa iklan mengenai produk non-kolesterol ini terkesan menyesatkan. Misalnya, minyak goreng merek tertentu yang diklaim tanpa kolesterol. Kenyataannya, kolesterol memang hanya ditemukan pada produk hewani (seperti daging, telur) sementara minyak goreng berasal dari kelapa sawit (sumber nabati). Dengan demikian, minyak goreng pada dasarnya memang tidak mengandung kolesterol.

Well, sebagai konsumen kita pun dituntut lebih cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh iming-iming produk non kolesterol. Tidak perlu pula berlebihan menganggap kolesterol itu sebagai momok yang menakutkan. Tubuh kita tetap membutuhkan kolesterol  kok, sekitar 300 mg per hari untuk menjaga fungsi normalnya. Sebab apa? Zat yang satu ini memiliki beberapa fungsi; antara lain merupakan komponen dalam garam empedu, menjadi bagian penting dalam semua membran sel, serta penting dalam pembentukan beberapa hormon seperti testosteron.


Sebuah penelitian menunjukkan ternyata kolesterol yang terkandung dalam makanan seperti kuning telur tidak memiliki efek siginifikan dalam peningkatan kolesterol darah. Justru, pola makan yang tinggi kandungan lemak jenuh (gorengan, margarin, dll) lebih banyak berpengaruh terhadap peningkatan kolesterol darah. Hal ini dikuatkan oleh penelitian J. Gray dan B.Griffin dalam jurnal berjudul Eggs And Dietary Cholesterol – Dispelling The Myth. Dosen saya, Prof. Veni Hadju, pernah berkata, “Tidak usah takut makan telur rebus setiap hari, kita harusnya lebih takut kalau makan gorengan tiap hari.” Lagi pula, telur merupakan makanan murah yang sangat kaya vitamin dan mineral.

Rabu, 25 Mei 2016

MENGOPTIMALKAN LAYANAN KONSELING GIZI POSYANDU DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN IBU DAN ANAK

Jika kita bertanya kepada masyarakat awam apa itu posyandu, kebanyakan orang akan menjawab bahwa posyandu adalah tempat untuk menimbang bayi dan balita, atau tempat memperoleh imunisasi. Padahal, fungsi posyandu tidak hanya sebatas timbang-menimbang, tetapi lebih dari itu posyandu merupakan suatu wadah yang memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Menurut Depkes, tujuan utama diadakan posyandu ialah untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Namun bagaimana pun, persepsi masyarakat terhadap posyandu selama ini tidak bisa serta-merta disalahkan karena yang terjadi di lapangan memang demikian adanya, peran posyandu belum optimal.
pict: www.liputan6.com

Selama ini, yang terjadi di sebagian besar posyandu adalah setelah penimbangan bayi dilakukan, kemudian hasilnya dicatat di buku KMS (Kartu Menuju Sehat). Sesudah itu, tidak ada tindakan lebih lanjut kepada para ibu tentang bagaimana mengatasi berat badan anak yang menurun atau statis, misalnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kegiatan konseling di posyandu memang belum dipandang penting. Padahal kalau kita mau serius “menggarap” konseling gizi di lingkungan posyandu, masalah gizi pada ibu dan anak bisa berkurang secara nyata karena melalui konseling kita bisa memahami akar masalah.

Konseling gizi berbeda dengan penyuluhan karena biasanya dalam penyuluhan hanya terjadi proses transfer informasi tanpa melibatkan aspek psikologis, sedangkan dalam kegiatan konseling aspek psikologis klien harus diperhatikan untuk mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku. Namun perlu dicatat, tugas seorang konselor gizi bukan untuk memaksakan suatu sikap/perilaku tertentu, melainkan membantu klien untuk meningkatkan kesadarannya terhadap masalah gizi, memahami masalah, kemudian menuntun mereka untuk mengambil sikap dan keputusan.

Konseling gizi diperlukan sebab setiap ibu memiliki persepsi berbeda terhadap suatu keadaan. Selain itu, mereka mungkin menghadapi kendala yang tidak sama antara satu dan lainnya. Sebagai contoh, seorang ibu tahu bahwa anaknya menderita gizi kurang sehingga anak tersebut harus mendapatkan tambahan intake. Tetapi masalahnya, si anak sangat sulit jika disuruh makan, anak tersebut juga lebih sibuk bermain dan memang nafsu makannya kurang. Jika begitu, apa yang harus dilakukan ibu? Dalam kasus berbeda, seorang ibu yang anaknya menderita kurang gizi terkendala masalah pendapatan keluarga yang rendah sehingga kecukupan gizi anaknya sulit dipenuhi. Maka bagaimana pula seharusnya ibu tersebut bersikap? Dikarenakan adanya perbedaan kondisi inilah sehingga diperlukan konselor gizi. Dengan demikian, dapat diperoleh solusi yang tepat dan sesuai berdasarkan kebutuhan masing-masing klien (ibu).

Makassar, 25 September 2013